PROPOSAL PTK "SYARIFUDIN"
|
|
TIPE JIGSAW DALAM MENUNTASKAN HASIL
BELAJAR
IPA
PADA SISWA KELAS V SDN 58 KOTA BIMA
TAHUN PELAJARAN 2018/2019
Diajukan Kepada Program Studi Pendidikan
Guru Sekolah Dasar Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Taman
Siswa Bima Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana
Pendidikan
Oleh:
SYARIFUDIN
NIM. 2014070217
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) TAMAN SISWA BIMA 2018
DAFTAR
ISI
HALAMAN SAMPUL........................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN............................................................................ .
ii
KATAPENGANTAR
............................................................................................iii
DAFTAR ISI......................................................................................................... .
iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................ 5
C. Tujuan Penelitian.................................................................................. 5
D. Mamfaat Penelitian............................................................................... 5
E. Definisi Operasional.............................................................................. 6
F. Lingkup Penelitian................................................................................ 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA
1. Landasan Teori
A. Ketuntasan Blajar............................................................................ 10
B. Kelebihan Dan Kelemahan Belajar.................................................. 12
C. Model Pembelajan Kooperatif......................................................... 14
D. unsur-unsur pembelajaran kooperatf................................................ 15
E. Tinjauan Pembelajaran Kooperatif .............................................. ...17
F. Tahap-tahap Pembelajaran
Kooperatif………..…………………….18
G. Tujuan
Tentang Bidang Studi Biologi............................................. 22
2 Kerangka Berpikir............................................................................. 24
3. Hipotesis Penelitian............................................................................ 25
BAB III METODE PENELITIAN
1. Jenis Penelitian................................................................................... 26
2. Pendekatan Penelitian....................................................................... 26
3.Tempat dan Waktu Penelitian........................................................... 27
4. Rancangan Penelitian......................................................................... 27
5. Instrument Penelitian......................................................................... 30
6. Teknik Pengumpulan Data................................................................ 31
7. Teknik Analisis Data.......................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA

PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pendidikan merupakan suatu cara pembentukan
manusia untuk belajar menggunakan rasionya seefektif dan seefesien mungkin
untuk menjawab berbagai masalah yang timbul dalam usaha menciptakan masa depan
yang lebih baik atau mengadakan perubahan-perubahan yang disebut dengan
kemajuan. Hal ini akan dicapai apabila dalam proses belajar mengajar
diselenggarakan secara profesional serta
kurikulum yang disajikan telah sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan
masyarakat.
Selama ini banyak keluhan tentang siswa yang kurang
mandiri, kurang menghargai pendapat orang lain, siswa yang kurang mau bekerja
sama atau membantu teman. Pembelajaran yang efektif untuk memperoleh
keberhasilan semua pihak, baik keberhasilan guru dan terutama keberhasilan
siswa secara terus menerus diupayakan, dicari, dicoba dan diteliti. Selain itu,
tuntutan semakin kompleksnya persoalan di tengah kehidupan masyarakat, tuntutan
pasar yang makin kompetitif, teknologi semakin berkembang, maka tuntutan
strategi pembelajaran yang efektif perlu dilakukan (Hasruddin, 2005).
Penyelenggaraan pembelajaran merupakan salah satu tugas utama guru, yaitu
pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk
membelajarkan siswa (Dimiyati dan Mudjiono, 1998).
Oleh karena itu peneliti mencoba menerapkan model
pembelajaran yang menjadi alternatif. Besarnya pengaruh model atau pendekatan
pembelajaran yang disajikan oleh guru sangat berperan dalam menentukan hasil
belajar yang lebih baik. Pendekatan yang sesuai adalah pembelajaran yang
berorentasi pada kepentingan siswa atau siswa sentries. Adapun kepentingan yang
diinginkan tersebut adalah perubahan pada diri peserta didik dalam aspek
pengetahuan, sikap dan perilaku serta keteampilan dan kebiasaan sebagai produk,
guru sebagai manejer pembelajaran menempatkan siswa menjadi klien dengan
menghilangkan dinding pemisah dalam arti positif.
Banyak cara yang perlu dilakukan dalam mencapai
perubahan pada diri siswa, salah satu diantaranya yaitu pembelajaran
kooperatif. Pembelajaran kooperatif mengupayakan peserta didik mampu
mengajarkan kepada peserta lain, memberikan kepada peserta didik untuk
mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan maka menjadi sumber
bagi teman yang lain. Tugas-tugas belajar yang kompleks seperti pemecahan
masalah, berpikir kritis, berpikir konseptual, meningkatkan secara nyata pada
saat digunakan pembelajaran kooperatif (Lie, 2002).
Kondisi-kondisi yang diciptakan dalam pembelajaran
kooperatif dapat mendorong siswa untuk belajar, bekerja dan tanggung jawab
secara sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Adanya
pengkajian lebih lanjut tentang pembelajaran kooperatif sangat perlu dilakukan
mengingat banyaknya model pembelajaran yang ditawarkan.
Salah satu model pembelajaran kooperatif tersebut
adalah model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Dalam pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw ini meningkatkan siswa untuk belajar bersama
dengan membentuk suatu kelompok dan para
anggota bertanggung jawab atas topik yang dibicarakan. Adanya tanggung jawab
para siswa dalam melakukan dan mempelajari topik-topik tertentu diharapkan
dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam belajar siswa guna mencapai
tujuan dan hasil belajarnya yang lebih baik.
Dari uraian di atas penulis mencoba ambil bagian
dalam memecahkan wacana pendidikan yang timbul lewat penelitian yang berjudul, Penerapan
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam menuntaskan hasil belajar IPA
pada siswa kelas V SDN 58 Kota Bima tahun ajaran 2018/2019.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah: apakah pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
dapat menuntaskan hasil belajar IPA pada siswa Kelas V SDN 58 Kota Bima tahun
ajaran 2018/2019.?
C. Tujuan
Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk
mengetahui “ketuntasan hasil belajar IPA melalui Penerapan pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw pada siswa Kelas V SDN 58 Kota Bima tahun ajaran
2018/2019.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1.
Manfaat Secara Teoritis
Penelitian ini
mampu memberikan informasi tentang Penerapan Pembelajaran Kooperatif tipe jigsaw
dalam menuntaskan hasil belajar IPA pada siswa Kelas V SDN 58 Kota Bima tahun ajaran 2018/2019.
2.
Manfaat Secara Praktis
Secara praktis penelitian ini diharapkan
bermanfaat bagi:
a. Sekolah
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan
acuan untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, mengembangkan strategi
pembelajaran dan dapat menjadi alternatif dalam mengatasi masalah pembelajaran
terutama pembelajaran IPA
pada Siswa Kelas V SDN 58 Kota Bima
tahun ajaran 2018/2019.
b.
Guru
Sebagai salah satu
pedoman bagi guru dalam memilih metode pembelajaran pada mata pelajaran IPA.
c. Siswa
Diharapkan dapat membantu siswa untuk meningkatkan
pemahaman konsep pada mata pelajaran IPA sehingga standar kompetensi dapat dituntaskan oleh siswa secara optimal.
E. Definisi Operasional
a.
Penerapan.
Penerapan merupakan kemampuan dalam penggunaan
praktik atau pemakaian ilmu untuk suatu tujuan tertentu, khususnya untuk
menjelaskan dan memecahkan masalah (Komaruddin dan Tjuparmah, 2002).
Menurut Ibrahim dan Sudjana (2003),
penerapan mengacu pada kemampuan menggunakan atau menerapkan pengetahuan yang
sudah dimiliki pada situasi baru, yang menyangkut penggunaan aturan, prinsip,
dan sebagainya, dalam memecahkan persoalan tertentu.
Dalam penelitian ini maksud dari penerapan adalah
kemampuan peneliti menerapkan atau melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam menuntaskan hasil belajar Siswa
Kelas V SDN 58 Kota Bima tahun ajaran 2018/2019.
1.
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yaitu
metode pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang
memiliki tingkat kemampuan yang berbeda dan para guru memperhatikan latar belakang
pengalaman siswa dan membantu siswa
mengaktifkan pengalaman itu agar ajaran menjadi lebih bermakna.
Adapun pengertian pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
dalam penelitian ini adalah para siswa akan diperlakukan selama proses belajar
dengan dibentuk suatu kelompok-kelompok belajar dalam kelas tersebut guna
memecahkan masalah belajar yang diberikan sehingga siswa tersebut dapat lebih
baik belajarnya dan lebih paham dalam proses evaluasi belajar. Tipe jigsaw
yang diterapkan dalam penelitian ini yaitu siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dengan lima atau
enam kelompok heterogen. Materi
pembelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks. Setiap kelompok
bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tertentu dari bahan yang diberikan.
Anggota dari kelompok yang lain yang mendapat tugas topik yang sama berkumpul
dan berdiskusi tentang topik tersebut. Kelompok ini disebut kelompok ahli.
Selanjutnya kelompok tim ahli ini kembali ke kelompok asal dan mengajarkan materi
yang dipelajarinya dan didiskusikan dalam kelompok ahlinya untuk diajarkan
kepada teman kelompoknya.
2. Ketuntasan Belajar.
Belajar tuntas adalah srategi pembelajaran
yang dapat dilaksanakan di dalam kelas, dengan asumsi bahwa di dalam kondisi
yang tepat semua peserta didik akan mampu belajar dengan baik dan memperoleh
hasil belajar secara maksimal terhadap seluruh bahan yang dipelajarinya
(Mulyasa, 2005) sedangkan menurut Ali (2002), belajar tuntas dapat diartikan
sebagai penguasaan (hasil belajar) siswa secara penuh terhadap seluruh bahan
yang yang dipelajarinya.
F. Lingkup
Penelitian
a.
Lokasi Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan di SDN 58 Kota Bima tahun ajaran 2018/2019.
b.
Subjek penelitian
Subjek
dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 58 Kota Bima tahun ajaran 2018/2019.
c.
Objek penelitian
Objek
dalam penelitian ini adalah hanya terbatas pada penerapan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada mata pelajaran IPA.
KAJIAN
PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Ketuntasan Belajar
Belajar tuntas adalah srategi pembelajaran yang
dapat dilaksanakan di dalam kelas, dengan asumsi bahwa di dalam kondisi yang
tepat semua peserta didik akan mampu belajar dengan baik dan memperoleh hasil
belajar secara maksimal terhadap seluruh bahan yang dipelajarinya (Mulyasa,
2005). Menurut Ali (2002), belajar tuntas dapat diartikan sebagai penguasaan
(hasil belajar) siswa secara penuh terhadap seluruh bahan yang yang
dipelajarinya. Adapun asumsi
belajar tuntas yaitu sebagai berikut:
1. Adanya korelasi antara tingkat keberhasilan
dengan kemampuan potensi (bakat).
2.
Apabila pelajaran dilaksanakan secara sistematis, maka semua peserta
didik akan mampu menguasai bahan yang
disajikan kepadanya.
Memahami
kedua asumsi di atas, dalam proses pembelajaran dimungkinkan bagi para guru
untuk menetapkan tingkat penguasaan yang diharapkan dari setiap peserta didik,
dengan menyediakan berbagai kemungkinan belajar dan meningkatkan mutu
pembelajaran. Menurut Anonim (dalam Yusuf, 2005) untuk menghitung ketuntasan
belajar siswa menggunakan rumus persentase. Siswa dikatakan tuntas belajarnya
jika proporsi jawaban benar siswa atau persentasenya dalam evaluasi
mencapai ≥ 65 % dan suatu kelas
dikatakan tuntas belajarnya jika di kelas tersebut terdapat 85 % siswa telah
mencapai ketuntasan individual
Ciri-ciri
belajar tuntas menurut Bloom (dalam Ali,
2002) yaitu sebagai berikut:
a.
Dalam kondisi belajar optimal, sebagian besar
siswa dapat menguasai secara tuntas apa yang diajarkan.
b.
Tugas pengajar perlu mencari sarana yang
memungkinkan siswa menguasai secara tuntas suatu bidang studi
c.
Perbedaan bakat terhdap suatu bidang studi sesuai
dengan jumlah waktu yang diperlukan untuk menguasai secara tuntas bidang studi
tersebut.
d.
Hampir semua siswa dapat mencapai tingkat belajar
tuntas dengan diberikan waktu belajar yang cukup .
e.
Setiap siswa harus memahami sifat tugas yang
dipelajari dan prosedur yang diikuti dalam belajar.
f.
Akan sangat bermanfaat bila disediakan beberapa
kemungkinan media pelajaran dan kesempatan belajar.
g.
Guru hendaknya menyediakan dan memberikan umpan
balik dan perbaikan bagi kesalahan atau kesulitan belajar siswa.
h.
Guru mencari berbagai cara untuk memperoleh waktu
yang diperlukan siswa untuk belajar.
i.
Perumusan TIK suatu pelajaran adalah prakondisi
bagi belajar tuntas.
j.
Proses belajar lebih baik jika bahan pelajaran
dipecah menjadi unit-unit kecil, dan memberikan tes setiap akhir mempelajari
unit tersebut.
k.
Usaha belajar siswa ditingkatkan apabila diaadakan
kelompok kecil terdiri dari 2 – 3 orang unutk bertemu secara teratur untuk
menelaah hasil testnya, dan untuk dapat saling membantu mengatasi kesulitan
belajar berdasarkan hasil test hasil test itu.
l.
Penilaian hasil terhadap hasil belajar harus
didasarkan pada tingkat penguasaan yang dinyatakan dalam tujuan intruksional
khusus bidang studi tertentu.
2. Kelebihan dan Kelemahan
Belajar Tuntas
Adapun kelebihan dan kelemahan belajar tuntas
menurut Hamalik (1999) yaitu sebagai berikut:
1.
Kelebihan Belajar Tuntas
a. Sejalan dengan pandangan
psikologi belajar modern yang berpegang
pada prinsip perbedaan
indivdual, belajar kelompok.
b. Memungkinkan siswa belajar aktif sebagaimana disarankan dalam
konsep CBSA yang memberi kesempatan kepada siswa
untuk mengembangkan diri sendiri, memecahkan masalah sendiri dengan menemukan
dan bekerja sendiri.
a.
Guru dan siswa diminta bekerjasama secara
partisipatif dan persuasif.
b.
Berorientasi kepada peningkatan produktivitas
hasil belajar.
c.
penilaian dilakukan terhadap kemajuan belajar
siswa mengandung
unsur
objektivitas yang tinggi.
2.
Kelemahan Belajar Tuntas
a. Guru
umumnya masih mengalami kesulitan dalam membuat perencanaan belajar tuntas
karena harus dibuat untuk jangka atau
semester di samping penyusunan satuan-satuan pelajaran yang lengkap dan
menyeluruh.
b. Sulit dalam
pelaksanaanya karena melibatkan berbagai kegiatan
c. Memerlukan sarana dan
prasarana belajar yang lengkap.
d. Menuntut para guru agar menguasai materi tersebut secara lebih luas, menyeluruh, dan lebih lengkap
3. Model Pembelajaran Kooperatif
Secara umum istilah model pembelajaran diartikan
sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan
kegiatan. Dalam pengertian lain “Model”
juga diartikan sebagai barang/benda yang sesungguhnya. Seperti “globe” adalah
model dari bumi tempat kita hidup
(Winataputra, 1992).
Dalam proses belajar mengajar biologi,
tentu tidak terlepas dari suatu model pembelajaran dalam menyajikan suatu
materi agar sesuai dengan tujuan intruksionalnya. Karena tinggi rendahnya
kegiatan belajar siswa dipengaruhi oleh model pembelajaran yang digunakan oleh
guru (Sudjana, 1990).
Ahli lain yaitu Joyce, Weil dan Showers (dalam Wasis, 2002) menggunakan istilah model yang
memiliki makna yang lebih luas daripada suatu strategi, metode atau rancangan.
Istilah model pembelajaran mencakup suatu pendekatan pengajaran yang lebih luas
dan menyeluruh, sehingga dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang penting
apakah yang dibicarakan tentang mengajar di kelas, di lapangan atau praktek
mengawasi anak-anak seperti model pembelajaran yang diklasifikasikan
berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaksnya (pola urutannya) dan sifat
lingkungan belajarnya.
Model
pembelajaran Kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran dimana siswa
belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki kemampuan yang berbeda
(Anonim, 2006), menurut Ibrahim, (2000), pembelajaran kooperatif merupakan
pembelajaran yang dicirikan oleh stuktur tugas, tujuan dan penghargaan
kooperatif. Siswa bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong atau
dikehandaki untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama, dan mereka harus
mengkoordinasi usahanya menyelesaikan tugasnya.
Selanjutnya, menurut Lie (2002)
pembelajaran kooperatif didefinisikan sebagai sistem kerja belajar kelompok
yang terstruktur, dimana dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota
saling bekerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan ajaran. Belajar
belum selesai jika salah satu dari teman dalam kelompok belum menguasai bahan
ajaran.
4. Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif
Roger dan David Johnson dalam Lie (2002)
mengatakan bahwa dalam pembelajaran kooperatif terdapat lima unsur model
pembelajaran yang harus diterapkan yaitu:
1.
Saling Ketergantungan Positif
Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha
anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif pengajar perlu
menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus
menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.
Setiap siswa mendapat sendiri dan nilai kelompok. Dengan demikian setiap siswa
akan mempunyai kesempatan untuk memberikan sumbangan. Beberapa siswa yang
kurang mampu tindakan akan merasa minder terhadap rekan-rekan mereka, malahan siswa
akan merasa terpacu untuk meningkatkan usaha mereka, sehingga hasilnya dapat
meningkat. Sebaliknya siswa yang pandai juga tidak akan merasa dirugikan.
2.
Tanggung Jawab Perseorangan
Unsur ini merupakan akibat langsung dari yang
pertama. Jika tugas dan penilaian dibuat menurut rancangan model pembelajaran
kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang
terbaik. Kunci keberhasilan metode ini adalah persiapan guru dalam penyusunan
tugasnya.
3.
Tatap Muka
Setiap kelompok harus diberikan kesempatan bertemu
muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan kesempatan para
pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Hasil
pemikiran dari beberapa kepala akan lebih kaya dari hasil pemikiran dari satu
kepala.
4.
Komunikasi antar Anggota
Unsur ini juga menghendaki agar para pembelajar
dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi. Keberhasilan suatu
kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan
dalam mengutarakan pendapat mereka.
5.
Evaluasi Proses Kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi
kelompok mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama siswa
selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.
5. Tujuan
Pembelajaran Kooperatif
Menurut Ibrahim (2000) model pembelajaran
kooperatif dikembangkan setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting
yaitu:
1. Hasil Belajar Akademik
Menurut Slavin (2001) Pembelajaran kooperatif
mengubah norma budaya dan membuat norma budaya lebih dapat menerima hasil
sehingga dapat memberi keuntungan, baik pada siswa kelompok bawah maupun
kelompok atas yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
2.
Penerimaan terhadap Perbedaan Individu
Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada
siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk saling bergantung satu sama
lain dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk
menghargai satu sama lain.
3. Pengembangan Keterampilan Sosial
Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk
mengembangkan keterampilan sosial siswa, yakni keterampilan kerjasama dan
kolaborasi.
6. Tahap-tahap Pembelajaran Koopertatif
Dalam model pembelajaran kooperatif terdapat
tahap-tahap pembelajaran, dimulai dengan tahap awal guru menyampaikan tujuan
dan memotivasi siswa untuk belajar hingga diakhiri dengan tahap memberikan
penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Selanjutnya
tahap-tahap pembelajaran kooperatif dari awal hingga akhir dapat dilihat pada
tabel berikut:
|
Fase
|
Tingkah
laku guru
|
|
Fase-1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Fase-2
Menyajikan informasi
Fase-3
Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok
belajar
Fase-4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Fase-5
Evaluasi
Fase-6
Memberikan penghargaan
|
Guru
menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada ajaran tersebut
dan memotivasi siswa untuk belajar.
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan
demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Guru menjelaskan kepada siswa cara membentuk
kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara
efisien.
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar siswa pada
saat mengerjakan tugasnya. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi
yang telah pelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil
kerjanya.
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik
upaya-upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
|
Tabel 2.1 Tahap-tahap dalam model pembelajaran kooperatif (Ibrahim, 2000)
7. Langkah-langkah Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Jigsaw
Dalam penerapan pembelajaran kooperatif
tipe jigsaw, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dengan lima atau
enam kelompok heterogen. Materi pembelajaran diberikan kepada siswa dalam
bentuk tes. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tertentu
dari bahan yang diberikan. Anggota dari kelompok yang lain, yang mendapat tugas
topik yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut. kelompok ini
disebut kelompok ahli. Selanjutnya kelompok team ahli ini kembali ke kelompok
asal dan mengajarkan apa yang dipelajarinya dan didiskusikan dalam kelompok
ahlinya untuk diajarkan kepada teman kelompoknya.
Adapun langkah-langkah secara umum proses
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah sebagai berikut:
1. Tahap Pendahuluan
a. Guru membentuk kelompok belajar siswa yang sudah direncanakan.
b. Mensosialisasikan pada siswa tentang model pembelajaran yang
digunakan dengan tujuan siswa cepat memahaminya.
c. Menggunakan metode tanya jawab guru memberikan epersepsi berkaitan
dengan materi yang akan dipelajari.
2. Tahap Perkembangan
a. Guru membagi LKS kepada setiap kelompok siswa.
Siswa yang mendapat masalah yang sama berkumpul
dan berdiskusi tentang masalah tersebut, ini disebut kelompok ahli. Hal ini
dapat dilakukan di luar jam ajaran oleh kelompok ahli bersama guru maupun pakar
ahli lainnya.
b. Kemudian kelompok ahli kembali
ke kelompok asal dan mengajarkan
pelajaran yang telah dipelajari dan
didiskusikannya dalam kelompok ahli
untuk diajarkan dalam kelompoknya sendiri.
c. Siswa diberikan kesempatan untuk mendiskusikan
LKS.
d. Guru memberikan bantuan kepada siswa seperlunya, agar siswa lebih
saling
bergantung satu sama lain, daripada bergantung pada guru.
3. Tahap Penerapan
a. Setelah ditemukan konsep yang terkandung
dalam materi yang dipelajari,
selanjutnya
guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajarkan soal-soal yang ada
dalam LKS dengan waktu yang telah ditentukan. Setelah selesai mengerjakan LKS,
setiap siswa saling memeriksa pekerjaan temannya.
b. Setelah semua kelompok diperkirakan sudah
selesai mengerjakan LKS,
kemudian lembar jawaban dikumpulkan untuk
dinilai.
c. Setelah jawaban dari soal-soal LKS dikumpulkan dan dinilai, kemudian
guru bersama siswa membahas LKS tersebut.
8. Tinjauan Tentang
Bidang Studi IPA
Mata pelajaran IPA berfungsi untuk menanamkan
kesadaran terhadap keindahan dan keteraturan alam, sehingga siswa dapat
meningkatkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai warga negara yang
menguasai sains dan teknologi untuk meningkatkan mutu kehidupan dan melanjutkan
pendidikan (Anonim, 2004)
Adapun
tujuan pengajaran mata pelajaran IPA yaitu sebagai berikut (Anonim, 2005):
1. Memahami konsep-konsep IPA dan
saling keterkaitannya.
2. Mengembangkan keterampilan dasar
IPA untuk menumbuhkan nilai
serta sikap ilmiah.
3. Menerapkan konsep dan prinsip IPA untuk menghasilkan karya
teknologi sederhana yang
berkaitan dengan kebutuhan manusia.
4. Mengembangkan kepekaan nalar untuk memecahkan masalah yang berkaitan
dengan proses kehidupan dalam
kejadian sehari-hari.
5. Meningkatkan kesadaran akan
kelestarian lingkungan.
6. Memberikan
bekal pengetahuan dasar untuk melanjutkan pendidikan
Menurut Majid (2006) dalam melakukan proses
pembelajaran para siswa diharapkan dapat memenuhi dan mecapai:
1. Standar kompetensi dapat didefinisikan sebagai pernyataan tentang
pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus dikuasai serta tingkat
penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu mata pelajaran. Standar kompetensi yang ingin dicapai
dalam penelitian ini yaitu mengaitkan hubungan antara struktur dan fungsi
beberapa sistem organ pada manusia dan Vertebrata dengan lingkungan, teknologi
dan masyarakat.
2 .Kompetensi dasar yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang
minimal harus dikuasai peserta didik untuk menunjukkan bahwa siswa telah
menguasai standar kompetensi yang ditetapkan. Kompetensi dasar yang ingin
dicapai dalam penelitian ini yaitu siswa mampu mendeskripsikan sistem saraf dan
alat indera pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan.
3. Indikator merupakan komptensi
dasar secara spesifik yang dapat dijadikan ukuran untuk mengetahui ketercapaian
hasil pembelajaran. Indikator dirumuskan dengan kata kerja operasional yang
bisa diukur dan dibuat instrument penilaiannya.
2. Kerangka Pikir
Pembelajaran yang efektif sangat diperlukan dalam
mencapai hasil dan hasil belajar yang baik. Banyaknya keluhan tentang siswa
yang kurang mandiri, kurang menghargai pendapat orang lain, siswa yang kurang
mau bekerja sama merupakan bukti pembelajaran selama ini tidak memberikan
konstribusi positif bagi siswa dan guru. Pemberdayaan model pembelajaran yang
telah ada terus di uji coba dan diteliti guna menjadi salah satu pilihan dalam
pembelajaran sehingga nantinya menciptakan kondisi belajar mengajar yang
efektif dan melibatkan semua pihak. Suatu proses belajar dikatakan selesai
apabila siswa telah menguasai bahan pembelajaran secara individu maupun secara
kelompok.
Salah satu pilihan model pembelajaran yang baik
adalah pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dimana dalam pembelajaran ini
siswa akan lebih memperhatikan kelancaran
hubungan kerja dan tugas diantara siswa. Selain itu tipe ini unggul dalam
membantu siswa untuk memahami konsep-konsep yang sulit. Disamping itu
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mengajarkan kepada siswa ketrampilan
kerja sama dan kolaborasi. Adanya proses pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan kooperatif tipe jigsaw diharapkan menjadi pilihan utama bagi
guru dalam mengajukan materi belajar sehingga tercipta suasana belajar yang
efektif dalam mencapai hasil belajar baik.
3. Hipotesis Penelitian
Hipotesis
merupakan dugaan atau anggapan sementara yang masih perlu dibuktikan
kebenarannya (Hadi, 2000). Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini
dapat dirumuskan sebagai berikut: penerapan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
dapat menuntaskan hasil belajar IPA pada Siswa Kelas V SDN 58 Kota Bima tahun
ajaran 2018/2019.
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK).
Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru atau peneliti
di dalam kelas, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja guru sehingga hasil
belajar siswa menjadi meningkat. Metode penelitian tindakan kelas menekankan
pada suatu kajian yang benar-benar dari situasi alamiah kelas sehingga mampu
memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar mengajar dalam penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk menuntaskan hasil belajar IPA siswa
kelas V SDN 58 Kota Bima tahun ajaran 2018/2019.
B. Pendekatan Penelitian
Pendekatan adalah suatu cara yang digunakan oleh peneliti
dalam suatu penelitian tentang urutan-urutan penelitian dilakukan. Dalam
penelitian ini pendekatan yang digunakan pendekatan kuantitatif yaitu suatu
pendekatan yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan (skoring),
(Sugiyono, 1999). Pendekatan kuantitatif
digunakan untuk mendapatkan data dari
nilai hasil tes dalam belajar menggunakan metode discovery pada pokok
bahasan ekosistem dan pokok bahasan kepadatan populasi manusia.
3. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN 58 Kota Bima kelas V semester II tahun ajaran 2018/2019 dari bulan Maret sampai
dengan bulan April tahun 2018.
4. Rancangan Penelitian
Dalam peningkatan pemahaman pembelajaran model
kooperatif tipe Jigsaw bagi
siswa V SDN 58 Kota Bima
tahun ajaran 2018/2019, penelitian ini dirancang dan dilaksanakan dalam 2 siklus apabila pada
siklus I tidak tuntas. Setiap
siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan
evaluasi dan refleksi. Berikut
gambar siklus Peneltian Tindakan Kelas menurut Lewin (2001 dalam Wibawa,
2003) yaitu:


PELAKSANAAN PELAKSANAAN
OBSERVASI
OBSERVASI
![]() |
|||
REFLEKSI REFLEKSI
Gambar 3.1. Siklus Penelitian Tindakan
Kelas (PTK)
Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa,
sesudah suatu siklus selesai diterapkan, khususnya sesudah adanya refleksi,
kemudian diikuti dengan adanya perencanaan ulang (planning) atau revisi
terhadap penerapan siklus sebelumnya. Selanjutnya berdasarkan perencanaan ulang tersebut dilaksanakan dalam
bentuk siklus tersendiri. Demikian untuk seterusnya, satu siklus diikuti dengan
siklus berikutnya sehingga PTK dapat dilakukan dengan beberapa kali siklus. Secara
rinci prosedur tindakan ini dijabarkan sebagai berikut:
a.
Siklus I
1. Perencanaan
Dalam tahap ini, hal-hal
yang dilakukan oleh peneliti adalah:
a.
Peneliti mensosialisasikan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada
guru IPA
b. Menyiapkan Rencana Proses pembelajaran (RPP).
c.
Menyusun lembar kerja siswa (LKS) sebagai bahan
diskusi.
d. Mendesain alat evaluasi dalam bentuk tes essai
e. Merencanakan analisis hasil tes
2. Pelaksanaan tindakan
Dalam
tahap pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peneliti adalah
melaksanakan skenario pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang telah disusun oleh peneliti dengan
observernya adalah guru IPA kelas V SDN 58
Kota Bima.
a. Observasi
Kegiatan observasi dilakukan secara kontinu setiap
kali pembelajaran berlangsung dalam pelaksanaan tindakan dengan mengamati
kegiatan guru dan aktivitas siswa. Sedangkan evaluasi dilakukan setelah akhir
setiap siklus dengan memberikan tes soal sebanyak 20 so’al yang dikerjakan
secara individual sesuai dengan skenario yang disusun.
b. Refleksi
Hasil yang diperoleh dari observasi dan hasil evaluasi
belajar siswa dikumpulkan serta dianalisis, sehingga dari hasil tersebut guru
dapat merefleksi diri dengan melihat data observasi, yaitu: identifikasi
kekurangan, analisis sebab kekurangan dapat menentukan perbaikan pada siklus
berikutnya.
b. Siklus II
Pada dasarnya pelaksanaan siklus I dengan siklus
II adalah sama. Perbedaannya, pada siklus II merupakan perbaikan atau penyempurnaan
pada siklus sebelumnya yang berdasarkan hasil refleksi dan siklus selanjutnya
dilaksanakan setelah selesai siklus
sebelumnya.
5. Instrumen penelitian.
Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian
ini adalah sebagai
berikut:
1. Lembar Observasi
Menurut Riduwan (2005), lembar observasi
adalah catatan peneliti mengenai segala sesuatu yang terjadi pada saat
penelitian berlangsung. Lembar hasil pengamatan dalam penelitian ini berupa
lembar pengamatan langkah-langkah pembelajaran metode latihan terbimbing untuk
mengetahui aktivitas siswa dan
guru dalam belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.
Hasil dari pengamatan digunakan sebagai refleksi bagi guru mata pelajaran untuk
memperbaiki proses pembelajaran pada siklus selanjutnya.
2. Tes
Menurut Arikunto
(2006), tes sebagai instrumen pengumpul data adalah serangkaian pertanyaan atau
latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi,
kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Tes yang digunakan dalam penelitian ini
untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar IPA yang didapat siswa dalam belajar
menggunakan model pembellajaran kooperatif tipe Jigsaw. Adapun
bentuk tes yang maksud adalah berupa tes
pilihan ganda.
3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) yaitu skenario yang disediakan oleh guru untuk melakukan pembelajaran
yang dibuat sebelum proses belajar mengajar dimulai agar proses belajar
mengajar dapat terarah.
6. Teknik Pengumpulan Data
1.
Cara pengambilan data
Cara pengambilan data dalam penelitian ini
adalah:
a. Data hasil belajar diperoleh dengan cara
memberikan tes evaluasi atau
ulangan pada siswa setiap akhir siklus.
b. Data tentang aktivitas belajar siswa
didapat dari hasil observasi aktivitas
siswa.
7. Tehnik Analisis Data
1. Data Aktivitas
Siswa
Data aktivitas belajar siswa
dianalisis dengan cara sebagai berikut:
a.
Menentukan skor yang diperoleh, skor setiap
individu tergantung banyaknya perilaku yang dilakukan siswa dari sejumlah
indikator yang diamati, dengan ketentuan skor sebagai berikut :
1. Skor 5 diberikan jika semua deskriptor nampak
2. Skor 4 diberikan jika 3
deskriptor nampak
3. Skor 3 diberikan jika 2
deskriptor nampak
4. Skor 2 diberikan jika
1 dekripptor nampak
5. Skor 1 diberikan jika
tidak ada deskriptor nampak
b. Menghitung skor aktivitas belajar siswa
dengan rumus:
|
M =
|
∑X
|
|
N.i
|
Keterangan :
M = Skor rata-rata aktivitas belajar siswa
∑ X = Jumlah skor aktivitas belajar seluruh
siswa
N =
Banyaknya siswa
i =
Banyaknya item
c. Menentukan Mi dan SDi dengan rumus sebagai
berikut:
Sebelum menentukan Mi dan SDi terlebih dahulu dihitung skor
maksimal ideal (SMI) yaitu skor yang mungkin dicapai apabila semua item
dapat dijawab dengan benar. Skor maksimal ideal dicari dengan jalan menghitung
jumlah item yang diberikan serta bobot daripada masing-masing item. Untuk
menentukan Mi dan SDi dengan cara sebagai berikut:
|
Mi =
|
1
|
SMi
|
|
2
|
|
SDi =
|
1
|
Mi
|
|
3
|
Keterangan :
Mi =
Mean Ideal
SDi =
Standar Devisasi ideal
Kualifikasi
aktivitas siswa ditentukan berdasarkan pedoman konvensi pada tabel berikut
(Sutarto, 2003).
Tabel 3.1 Pedoman Konversi Penilaian
skala 1-5
Aktivitas siswa
dalam mengikuti pelajaran.
|
Interval
|
Nilai
|
Kategori
|
|
|
|
Sangat Aktif
|
|
|
|
Aktif
|
|
|
|
Cukup Aktif
|
|
|
|
Kurang Aktif
|
|
|
|
Sangat Kurang Aktif
|
(Sutarto : 2003)
2. Data tes hasil belajar
Setelah memperoleh data tes hasil belajar, maka data tersebut dianalisa dengan mencari ketuntasan belajar dan
daya serap, kemudian dianalisa secara kuantitatif.
1. Ketuntasan Individu.
Setiap siswa dalam proses belajar mengajar
dikatakan hasil belajarnya tuntas apabila memperoleh nilai ≥ 6,5. Nilai
ketuntasan minimal sebesar ≥ 6,5 dipilih
karena sesuai dengan kemampuan individu.
2. Ketuntasan
Klasikal.
Data tes hasil belajar proses pembelajaran dianalisis dengan menggunakan
analisis ketuntasan hasil belajar secara klasikal minimal 85% dari jumlah siswa
yang memperoleh nilai ≥ 65.
Dengan rumus ketuntasan belajar klasikal
adalah:
KK =
x 100 %
Dimana :
KK = Ketuntasan klasikal
X =
Jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥ 65
Z = Jumlah seluruh siswa
Ketuntasan belajar tercapai jika
siswa memperoleh nilai
minimal 65 yang akan terlihat pada hasil evaluasi tiap-tiap siklus.
DAFTAR PUSTAKA
Ali,M, 2002. Guru dalam Proses Belalaja Mengajar.
Bandung: Sinar Baru Algesindo
Anonim, 2004. Kurikulum 2004 Standar
Kompetensi Mata Pelajaran Biologi. Jakarta: Depdiknas
Anonim. 2005. Sains. Jakarta: Depdiknas.
Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi V, Jakarta : Rineka Cipta.
Dimiyati dan Mudjiono. 1998. .Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Hadi, S. 2000. Statistik Penelitian. Jakarta: Andi Offset.
Hamalik, O. 1999. Psikologi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hasruddin, 2005. ”Strategi Pembelajaran Kooperatif Pada Pembelajaran IPA Biologi” Diktat, Mataram: FPMIPA IKIP Mataram.
Ibrahim,
2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya:University Press.
Ibrahim, R dan Nana Sudjana, N. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta. PT
Rhineka Cipta.
Komarudin S. Tjuparmah Yooke. 2002. Kamus Istilah Karya Ilmiah. Jakarta,
Bumi Aksara
Lie A, 2002. Cooperatif Learning. Jakarta: Gramedia Widya Sarana Indonesia.
Majid. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Rosdakarya Slameto. 2003. Belajar dan Faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta
Mulyasa.2005. Menjadi
Guru Profesional. Bandung: Rosdakarya
Riduwan, 2005, Metode
dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung: Alfabeta
Sudjana, N. 1990. CBSA dalam Proses Belajar
Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algresindo
Sudjana, N. 2002. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Algensindo
Sugiyono. 1999. Statistik
untuk Penilaian. Bandung:
CV. Albert.
Sutarto. 2003. Penerapan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe TGT (Team, Games, Tournamen) dalam Mwningkatkan Prestasi
Belajar Pada siswa Kelas VIII SMP N 11 Mataram Tahun Pelajaran 2002/2003.
FPMIPA IKIP Mataram
Wasis, 2002.
Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi.Jakarta: Depdiknas.
Wibawa, 2003. Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta: Depdiknas
Winataputra. 1992. Strategi Belajar Mengajar Biologi . Jakarta: Universitas terbuka.
Yusuf, 2005. Kualitas Hasil Belajar Biologi
Melalui Pengembangan Perangkat Pembelajaran yang Berorientasi Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw pada Madrasah Aliyah Ponpes Nurul Haramai
Lombok Barat NTB. Jurnal Visvitalis. 1 (1): 45 – 50.
.

Komentar
Posting Komentar