“Merajut Impian Bersama Kampus STKIP Taman Siswa Bima”




“Ketika mimpi tidak sesuai dengan kenyataan maka begadanglah”itulah tuturan seniorku.


Dalam kehidupan setiap insan memiliki pleaning dalam menyonsong kurikulum kehidupan terlebih lagi dalam mencapai tujuan dan cita-cita hidup, statement ini menjadi buah bibir dikalangan masyarakat,mahasiswa terlebih lagi siswa yang sedang menempuh dunia pendidikan

Di abad 21 banyak orang bermimpi bahwa dalam mengejar dan mencapai tujuan dan cita-cita hidup harus di kota besar dengan kampus negeri  dan universitas bertingkat yang di sertai sarana dan prasarana yang memadai, dengan begitu impian yang di impikan bisa terwujud. Pernyataan ini selalu menghegemoni adik-adik yang mulai tamat sekolah menengah akhir (SMA) dalam memilih perguruan tinggi untuk melanjutkan pendidikan jenjang (formal), melihat ranah sosial  yang kurang bersahabat maka perlunya memilah dan memilih orientasi pendidikan.

Di bima acapkali banyak orang berkata bahwa dalam menempuh di perguruan tinggi banyak sekali halangan dan rintangan seperti pengaruh bahasa daerah dan sering pulang kampung, dua pernyataan ini selalu menghiasi ruang lingkup mahasiswa berdasarkan realitas yang sering terjadi. Tetapi setiap pernyataan bukanlah teks yang bersifat absolut dan tentunya kembali ke-prinsip hidup masing-masing sebagaimana alkuran mengatakan manjjadah wajjadah (siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan mendapatkannya).

Setiap perguruan tinggi yang ada di bima memiliki kelebihan dalam memberikan kontribusi masing-masing seperti: STKIP Kota Bima, STKIP Taman Siswa Bima, STISIP Mbojo Bima, STIE Bima dan STIT Sunan Giri Bima dan lain-lain. Perguruan tinggi ini memiliki konsep dan gagasan dalam membimbing dan mencerdaskan kehidupan mahasiswa sesuai dengan beckground masing-masing.
Dari beberapa kampus di atas, untuk merajut impian dan tujuan hidup, saya memilih Kampus  Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Taman Siswa Bima yang beckgroundnya Ke-pendidikan. Dalam hal ini adapun catatan dan coretan historys saya bersama kampus kebanggaan saya.

Melanjutkan studi pendidikan di perguruan tinggi merupakan impian banyak orang termasuk saya, maka dalam hal ini setelah saya tamat sekolah  di SMA negeri 1 wera saya melanjutkan s1 di perguruan tinggi yang ada di bima yaitu STKIP Taman Siswa Bima dan mengambil jurusan pendidikan guru sekolah dasar (PGSD) di antara jurusan yang lain seperti sejarah, penjaskesrek, matematika, bahasa inggris, fisika dan pendidikan teknologi informasi dan komunikasi. Kenapa saya memilih jurusan pgsd, karena mutu pendidikan guru sekolah dasar itu harus di prioritaskan karena maju mundurnya tunas bangsa tergantung generasi transformasi guru, terutaman guru sekolah dasar.

Awal perkuliahan merupakan masa-masa untuk mencari jati diri sebagai seorang mahasiswa. Dan tentunya segala sesuatu harus di mulai dari diri sendiri “ibda binafsiq” kalimat ini menjadi prinsip dalam hidup saya bahwa belajar itu harus ada kemauan dari diri sendiri tidak harus menungguh perintah dari orang lain. Semester 1 saya selalu berperan aktif dalam aktivitas rutinitas perkuliahan baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan, rasa ingin tau saya sebagai insan ulul al-bab (Haus akan ilmu) mengundang saya untuk melewati fase-fase kehidupan kampus. Suatu hari saya di ajak senior “sahabat Refan” untuk masuk dalam organisasi eksternal kampus, karena dari dulu sebelum masuk kuliah saya sering mendengar kata organisasi yang sering keluar dari mulut masyarakat, rasa ingin tau ini semakin tinggi untuk belajar dan memahami fungsi dan tujuan hadir saya kuliah. Akhirnya di tengah semester satu saya masuk dalam Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) “Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dengan sistim kaderisasi selama 3 hari tempatnya di pondok Al-Furqon Dodu. Setelah masuk dan sudah jadi anggota PMII saya merasakan ada perubahan dalam  jati diri saya yang beda dengan sebelumnya, di situlah saya memahami bahwa organisasi itu penting bagi kehidupan mahsiswa. Setelah di dotkrin organisasi saya lebih bersifat kritis dalam berbagai diskusi formal maupun non formal bersama teman, di ruangan' saya dan teman saya HMI seperti muhlis dan rijal saling adu konsep ide dan gagasan ketika membahas makalah bahkan setingan untuk membuat forum diskusi agar lebih hidup.

Semester 2, 3, 4 dan 5 integritas mulai  berkiprah dan akhirnya saya masuk organisasi internal kampus seperti Badan Eksekutif Republik Mahasiswa (BEM-REMA) periode 2016-2017, di situlah saya belajar akan tanggung jawab sebagai representasi dari aspirasi mahasiswa. Semua dinamika kampus telah saya lalui terlebih lagi dinamika gerakan jalanan bersama PMII.

Pada Bulan November 2016 saya mendengarkan informasi bahwa saya masuk dalam “Pertukaran Mahasiswa Tanah Air Nusantara (PERMATA) program dari  RISTEKDIKTI bersama teman-teman 30 orang untuk mewakili STKIP Taman Siswa Bima di jawa timur dan jawa Tengah selama satu bulan. Saya dan 15 orang lainnya di posisikan di Jawa Timur Kampus IKIP PGRI Madiun sekarang sudah Universitas IKIP PGRI Madiun (UNIPMA) dan Jawa Tengah Kampus Univet Bantara Sukarharjo. Pengalaman yang begitu menyenangkan dan mengesankan bisa belajar di luar pada kampus dan kota sendiri, selama satu bulan waktu itu tidak saya sia-siakan untuk menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk merajut impian di hari esok. Akhir kami pulang pada tanggal 14 desember dan kembali berhijrah untuk Kampus STKIP Taman Siswa Bima dan melanjutkan rekontruksi orientasi kehidupan di kampus. Tahun berganti saya tetap masuk jadi anggota BEM dan mendapat jabatan sebagai ketua organisasi eksternal “ Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia” Komisariat Sultan Muhammad Salahuddin STKIP Taman Siswa Bima masa khidmat 2017-2018. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia merupakan organisasi yang menuntun saya ketika jadi mahasiswa, perjalanan hidup bersama PMII membuat saya bangga karena disitulah pencarian jadi diri sebagai anak gerakan. Menjadi anak gerakan tidak mudah, karena semua anak gerakan bukan berarti PMII tapi anak PMII sudah pasti anak gerakan, catatan hidup inilah membuat saya ingin terus bergerak dan ingin maju tanpa henti di persimpangan jalan. Seiring berputarnya waktu ada hal- hal kecil yang harus saya lalui sebagai refleksi terhadap realitas kehidupan' karena memang pengaruh lingkungan yang sangat signifikan membuat saya ragu akan hal itu, keraguan ini tumbuh dan berkembang dan sudah berakar dalam mindset pemikiran saya untuk terus berpikir dan ingin keluar dari belenggung kehidupan.  


Itulah catatan historys saya bahwa menuntut ilmu tidak pernah memandang tempat dan waktu.


Dzikir, Fikir & Amal Sholeh.
Tangan terkepal dan maju kemuka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Urgensi Pemuda dalam Pembangunan Desa

Kabar Harian "IMTA BIMA"