Informasi dan Komunikasi pusat kestabilan psikologis Bangsa dan Agama
Foto Penulis
Di tengah perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin pesat, informasi dan komunikasi menjadi treanding topik di berbagai ranah kehidupan sosial masyarakat. Informasi dan komunikasi merupakan dua hal yang tidak bisa di pisahkan dari narasi kehidupan sosial masyarakat, karena dua hal ini sangat urgen dalam menjaga kestabilan psikologis kehidupan berbangsa dan beragama.
Apalagi di Era digital adalah kebangkitan adam milenial dengan kehidupan selalu di bumbui dengan cita rasa informasi dan komunikasi dari pelbagai media, baik info pendidikan, budaya, politik dan agama dll. Info - info ini selalu mewarnai dan menyita perhatian publik dengan reaksi secara masif dan massal.
Apalagi di tahun 2019 kita memasukin pesta Demokrasi 5 tahun sekali dengan pemilihan serentak DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Propinsi, DPR-RI, DPD dan CAPRES dan CAWAPRES. Tentunya informasi dan komunikasi dari berbagai penjuruh menjurus ke arah masyarakat dengan propaganda dan agitasi untuk meraup simpatisan dari masyarakat. Hasthag bertebaran di media sosial sebagai upaya untuk meningkatkan elektabilitas diri, mau hoaks atau tidak yang penting ekspansi diri bernilai dollar di mata publik. Oleh karena itu di tengah degradasinya info yang valid mengharuskan kita untuk mencerna dan mencermati antara info editan dan info yang original dengan menggunakan akal sholeh. Karena kestabilan psikologis bangsa dan agama lahir dari kejernihan informasi dan komunikasi yang mengutamakan adab.
Maka di tengah derasnya berita hoaks perlu kita untuk meneliti. "Wahai orang - orang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (teliti dulu) agar jangan sampai kalian menimpahkan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan. (Al-Hujurat 49:6)"
subtansi ayat ini sudah jelas sebagai panduan untuk kita agar lebih mencermati infomasi dan hoaks yang beredar di masa kini. Begitu pula dalam berkomunikasi, karena komunikasi sangat mempengaruhi aktivitas lawan bicara maupun objek di sekeliling kita. Hal ini di ungkapan juga oleh Imam Al-Ghazalli "ucapan lidah (lisan) itu mempengaruhi anggota tubuh manusia lainnya, apakah akan mendapatka taufik atau kesesatan." Oleh karena itu dengan stigma suasana politik yang serba-serbi misterius mengharuskan kita sebagai adam milenial untuk menjaga kestabilan psikologi kehidupan berbangsa dan beragama.
"Mendirikan negara ini susah, tapi mempertahankan negara ini jauh lebih susah" (Nusron Wahid).

Komentar
Posting Komentar