Kiri Komunis, Kanan Khilafah
Arsip sejarah negara besar ini menyimpan catatan berdarah: Pemberontakan G-30-S/PKI. Tiga kali bikin ulah, puncaknya 1965 PKI menghilangkan nyawa 7 Jenderal hanya kurang dari satu malam. Soal politik, PKI tidak peduli utk menempuh segala cara yang inkonstitusional, menebar teror dan fitnah kepada sesama anak bangsa, nir-tatakrama, doyan mengolok-olok para petinggi negara yang tak sejalan dengan mereka.
Utk menyegarkan ingatan saja, PKI meski pentolannya semacam Aidit cs sempat melarikan diri ke Peking sejak 1948, tetapi mereka mampu mengendalikan massa militan dari jarak jauh. Ikut Pemilu 1955 malah langsung masuk 3 besar. Siapa musuh mereka di era demokrasi terpimpin? Hanya dua: Angkatan Darat dan Pesantren!
Mereka menghembuskan isu kudeta dan revolusi dewan jenderal? Bahwa AD akan merebut tampuk kepemimpinan negara dari Soekarno. Siapa yang kemudian membenarkan fitnah itu? Sah! PKI sendiri.
-000-
Pemilu tahun 2019, hampir semua alat negara sepakat bahwa alarm bahaya telah berbunyi, tentang ancaman infiltrasi kelompok pengusung ideologi "Khilafah", ideologi import besutan Hizbuttahrir, spesialis pengacau negara-negara timur tengah. Pergerakan halus ini sudah terbaca karena ingin mendompleng Pemilu. Targetnya jelas: Chaos!
Kecanggihan HT -sama dengan PKI dulu- ialah kemampuan mereka berperan seolah-olah sebagai kawan sejati bagi kaum ultranasionalis, yang begitu peduli dengan nasib kehormatan negara, bahwa Negara harus mengambil jarak sempurna dengan kepentingan asing. Ingatlah di awal 1960an bagaimana PKI selalu mengaminkan narasi perlawanan negara terhadap aneksasi Malaysia di Borneo, juga arogansi Belanda di tanah Papua. Pidato-pidato Soekarno kian ekstrovert: serang kapitalis Inggris-Amerika.
-000-
Bagi mereka yang merasa bahwa khilafah tidak berbahaya, itu mungkin karena tiga sebab. Pertama, mereka berpendapat bahwa isu khilafah hanyalah jualan salah satu capres dalam Pemilu, sehingga dianggap angin lalu saja. Kedua, mereka percaya khilafah sebagai salah satu tuntunan agama yang tidak melahirkan resiko apapun, dan mereka setuju-setuju saja. Ketiga, mereka memang benar-benar tidak tahu duduk persoalan tentang misi penegakan khilafah yang dimaksud oleh negara.
Seperti kata Menteri Pertahanan RI, ancaman terhadap kesatuan kita sebagai bangsa ini datang dari arah kiri dan kanan. Dari kiri adalah kelompok baperan pengkhayal PKI yang ingin merubah Pancasila menjadi berhaluan komunis. Lalu dari kanan adalah kelompok radikal-fundamentalis yang ingin merubah Pancasila dengan ideologi khilafah. Baik yang kiri maupun kanan, senjata andalan mereka sama, yaitu fitnah! Akar perjuangannya sama: Ambisi merebut kekuasaan.
Meski HTI sudah sah dibubarkan, bukan berarti inisiasi gerakan ini serta merta hilang. Justru boleh jadi, dendam pada negara makin menjadi-jadi. Dan mereka menemukan momentum terbaiknya utk melancarkan niat busuknya, yakni Pemilu. FYI, Hizbuttahrir itu bukan organisasi kaleng-kaleng yang hidup dari proposal bakti sosial. Mereka ini organisasi politik internasional yang mendapat asupan gizi finansial dari donatur-donatur luar, pusat kendalinya malah ada di London! Pola kerjanya canggih, persis Jin!
-000-
Khilafah itu semacam Udi Made! Menjijikkan tapi tidak mematikan, kontraindikasinya bisa merusak selera makan, wedu saribi, dan migren berkepanjangan. Khilafah itu omong kosong mereka yang jualan agama demi ambisi kekuasaan! Selama planet ini bernama bumi, khilafah yang mereka teriakkan itu tidak akan bisa terwujud, kecuali mereka numpang SpaceX Elon Musk ke Mars, bangun khilafah di sana, insya Allah para aliens muallaf semua. *kopas Gus

Komentar
Posting Komentar